Viral Petugas Listrik yang “Dirujak Netizen”: Pelajaran Besar Tentang Empati, Media Sosial, dan Komunikasi di Tengah Krisis Pemadaman


Di era media sosial, sebuah kalimat pendek bisa membawa dampak yang sangat panjang. Apa yang dulu mungkin hanya menjadi obrolan kecil di lingkungan kerja, kini dapat berubah menjadi perdebatan nasional hanya dalam hitungan jam. Sebuah video yang menampilkan seseorang berpakaian seperti petugas kelistrikan menjadi bahan pembicaraan warganet setelah ucapannya dianggap kurang tepat dalam merespons keresahan masyarakat terkait pemadaman listrik.

Dalam video yang beredar, terlihat seorang pria mengenakan perlengkapan kerja yang identik dengan dunia kelistrikan. Ia memakai helm keselamatan berwarna merah dengan latar belakang yang tampak seperti area instalasi listrik atau gardu. Video tersebut kemudian tersebar di media sosial dengan narasi bahwa seorang petugas listrik memberikan pernyataan yang membuat sebagian masyarakat tidak nyaman.

Banyak warganet kemudian bereaksi. Istilah populer yang muncul adalah “dirujak netizen”. Dalam bahasa media sosial Indonesia, istilah ini bukan berarti secara harfiah seseorang diberi makanan rujak, melainkan sebuah ungkapan ketika seseorang mendapat kritik bertubi-tubi, komentar pedas, atau kecaman ramai-ramai dari pengguna internet.

Namun pertanyaannya, siapa sebenarnya orang tersebut? Di mana lokasinya? Dan apakah benar dia mewakili sebuah institusi resmi?

Di sinilah pentingnya kehati-hatian sebelum mengambil kesimpulan.

Ketika Sebuah Video Viral, Fakta dan Emosi Sering Berjalan Berbeda

Ketika masyarakat sedang menghadapi situasi sulit, seperti pemadaman listrik, emosi publik biasanya lebih sensitif. Listrik pada zaman sekarang bukan lagi sekadar penerangan. Hampir semua aktivitas bergantung pada listrik.

Pedagang membutuhkan listrik untuk menyimpan barang dagangan. Pelajar membutuhkan listrik untuk belajar. Pekerja membutuhkan listrik untuk perangkat komunikasi. Bahkan sebagian layanan kesehatan dan keamanan juga bergantung pada pasokan energi.

Karena itu, ketika terjadi pemadaman, masyarakat secara alami berharap mendapatkan informasi yang jelas, penjelasan yang baik, dan terutama rasa dihargai.

Masalah sering muncul bukan hanya karena gangguan teknisnya, tetapi karena cara komunikasi yang diterima masyarakat.

Seseorang yang sedang kecewa terkadang tidak hanya membutuhkan jawaban teknis seperti:

“Ini karena gangguan jaringan.”

atau:

“Ini sedang dalam perbaikan.”

Masyarakat juga ingin mendengar empati:

“Kami memahami ketidaknyamanan yang terjadi. Mohon maaf atas gangguan ini. Petugas sedang berusaha mempercepat pemulihan.”

Dua jawaban tersebut mungkin sama-sama menjelaskan kondisi, tetapi dampak psikologisnya berbeda.

Mengapa Netizen Bisa Begitu Cepat Bereaksi?

Fenomena “dirujak netizen” sebenarnya menjadi gambaran bagaimana kuatnya pengaruh media sosial saat ini.

Sebuah video pendek hanya beberapa detik bisa tersebar ribuan kali. Orang yang menonton sering kali tidak mendapatkan konteks lengkap.

Mungkin saja video tersebut dipotong.

Mungkin saja ada percakapan sebelum dan sesudahnya.

Mungkin juga seseorang yang tampil dalam video sedang bercanda kepada lingkaran tertentu, tetapi ketika keluar ke ruang publik, maknanya berubah.

Inilah risiko besar dunia digital.

Apa yang menurut seseorang biasa saja, belum tentu diterima sama oleh ribuan bahkan jutaan orang lain.

Apalagi jika seseorang menggunakan atribut pekerjaan atau berada di lingkungan kerja. Publik sering kali tidak melihatnya sebagai individu pribadi, tetapi menganggapnya membawa nama lembaga.

Seorang pegawai bank berbicara, orang mengaitkan dengan bank.

Seorang tenaga kesehatan berbicara, orang mengaitkan dengan rumah sakit.

Begitu juga seseorang yang terlihat sebagai petugas listrik, masyarakat mudah menghubungkannya dengan perusahaan tempatnya bekerja.

Padahal status sebenarnya perlu diverifikasi terlebih dahulu.

Siapa Petugas dalam Video Itu?

Berdasarkan gambar yang beredar, memang terlihat seseorang memakai perlengkapan yang menyerupai petugas kelistrikan. Tetapi dari sebuah foto atau potongan video saja, tidak cukup untuk memastikan identitas seseorang.

Tidak bijak langsung menyebarkan nama, alamat, atau tempat kerja seseorang tanpa bukti resmi.

Ada beberapa kemungkinan:

Pertama, dia benar seorang petugas resmi.

Kedua, dia pekerja pihak ketiga atau kontraktor.

Ketiga, video tersebut merupakan video lama yang kembali naik karena momentumnya cocok dengan isu yang sedang ramai.

Keempat, konteks ucapan sebenarnya berbeda dari narasi yang menyebar.

Dalam dunia internet, kejadian seperti ini sering terjadi. Video lama bisa muncul kembali bertahun-tahun kemudian dan dianggap sebagai kejadian baru.

Karena itu, prinsip “cek dulu sebelum sebar” menjadi sangat penting.

Di Mana Lokasi Kejadiannya?

Dari gambar yang beredar, latar belakang memang terlihat seperti fasilitas kelistrikan. Ada struktur yang menyerupai instalasi gardu atau area peralatan listrik.

Namun lokasi pastinya belum dapat dipastikan hanya dari gambar tersebut.

Tidak terlihat papan nama lokasi.

Tidak terlihat tulisan unit kerja.

Tidak ada informasi geografis yang jelas.

Dalam investigasi digital, menentukan lokasi hanya dari gambar membutuhkan bukti pendukung lain seperti:

unggahan asli,

metadata video,

tanda lokasi,

pernyataan resmi,

atau konfirmasi pihak terkait.


Tanpa itu, menyebut sebuah daerah tertentu justru berpotensi menyebarkan informasi yang salah.

Antara Kritik Publik dan Perundungan Digital

Masyarakat tentu berhak memberikan kritik.

Jika pelayanan publik kurang baik, kritik adalah bagian dari kontrol sosial. Bahkan kritik sering membantu sebuah lembaga memperbaiki pelayanan.

Namun ada perbedaan antara kritik dan perundungan.

Kritik membahas tindakan:

“Pernyataannya kurang tepat.”

“Komunikasinya perlu diperbaiki.”

“Harus lebih memahami kondisi pelanggan.”

Sedangkan perundungan menyerang pribadi:

menghina fisik,

mencari data pribadi,

mengancam,

atau menyebarkan informasi yang belum tentu benar.

Dalam masyarakat digital yang sehat, kritik tetap harus menjaga etika.

Kesalahan seseorang tidak otomatis membuat semua batas hilang.

Pelajaran Penting untuk Petugas Pelayanan Publik

Kejadian viral seperti ini memberi pelajaran besar bagi siapa saja yang bekerja berhubungan dengan masyarakat.

Kemampuan teknis saja tidak cukup.

Seorang teknisi bisa sangat ahli memperbaiki mesin.

Seorang petugas listrik bisa sangat memahami jaringan.

Namun ketika berbicara kepada publik, kemampuan komunikasi menjadi bagian dari profesionalitas.

Terutama dalam kondisi krisis.

Ada tiga hal sederhana yang penting:

Pertama: akui kondisi masyarakat.

Misalnya:

“Kami memahami warga terganggu karena pemadaman ini.”

Kedua: berikan informasi.

“Gangguan sedang dalam proses perbaikan.”

Ketiga: bangun harapan realistis.

“Kami berusaha agar layanan kembali normal secepat mungkin.”

Kalimat sederhana bisa mengubah suasana.

Pelajaran untuk Masyarakat Pengguna Media Sosial

Di sisi lain, masyarakat juga perlu semakin dewasa menghadapi informasi viral.

Tidak semua yang viral pasti lengkap.

Tidak semua yang ramai pasti benar.

Sebelum ikut menghujat, ada baiknya bertanya:

Apakah saya sudah melihat video lengkap?

Apakah sumbernya jelas?

Apakah orang tersebut benar seperti yang disebutkan?

Apakah ada klarifikasi?

Karena jejak digital tidak mudah hilang.

Tuduhan yang salah bisa menghancurkan reputasi seseorang.

Hari ini kita bisa menjadi penonton yang mengomentari orang lain. Namun suatu saat, bisa saja kita berada di posisi orang yang dikomentari.

Luruskan Hati Sebelum Menekan Tombol Kirim

Ada nasihat sederhana yang relevan di zaman media sosial:

Jangan sampai jari lebih cepat daripada hati.

Sebelum menulis komentar, tanyakan pada diri sendiri:

Apakah ucapan ini memperbaiki keadaan?

Apakah ini nasihat atau sekadar melampiaskan emosi?

Apakah saya akan mengatakan hal yang sama jika orang tersebut berdiri di depan saya?

Dalam ajaran agama pun, menjaga lisan adalah perkara besar. Pada zaman dahulu lisan adalah ucapan dari mulut. Hari ini, tulisan di layar juga menjadi bagian dari lisan kita.

Sebuah komentar bisa menjadi kebaikan.

Namun juga bisa menjadi sesuatu yang menyakiti.

Kesimpulan: Viral Hari Ini, Pelajaran untuk Semua

Kasus viral petugas listrik yang mendapat reaksi keras warganet bukan hanya cerita tentang satu orang dan satu video.

Ini adalah gambaran zaman.

Zaman ketika komunikasi menjadi sangat penting.

Zaman ketika setiap orang bisa merekam, mengunggah, dan menyebarkan sesuatu dalam hitungan detik.

Bagi petugas pelayanan publik, kejadian ini mengingatkan bahwa empati adalah bagian dari pekerjaan.

Bagi masyarakat, kejadian ini mengingatkan bahwa kritik harus tetap dilakukan dengan adab.

Karena pada akhirnya, listrik yang padam bisa diperbaiki oleh teknisi.

Tetapi hubungan dan kepercayaan yang rusak karena komunikasi buruk sering kali membutuhkan waktu jauh lebih lama untuk dipulihkan.