Rakyat Kecil Boleh Bicara Negara: Antara Minyak Parit, Balok Bengkok, dan Hak untuk Peduli
Ada sebuah sindiran yang belakangan sering muncul dalam berbagai bentuk: “Jangan masih makan minyak parit tetapi sibuk memikirkan negara.” Sebuah kalimat yang terdengar sederhana, tetapi membawa pesan cukup tajam. Seolah-olah seseorang harus menyelesaikan seluruh persoalan hidup pribadinya terlebih dahulu sebelum memiliki hak untuk berbicara tentang arah sebuah bangsa.
Sekilas, nasihat itu terdengar masuk akal. Memang benar, seseorang perlu bercermin sebelum menunjuk kesalahan orang lain. Memperbaiki diri sendiri adalah pondasi penting sebelum berharap memperbaiki masyarakat yang lebih luas. Namun, jika kalimat tersebut digunakan untuk mengecilkan suara rakyat kecil, maka ada persoalan lain yang perlu dibahas.
Sebab negara bukan hanya milik mereka yang duduk di kursi kekuasaan. Negara bukan hanya urusan pejabat, akademisi, atau orang-orang dengan gelar panjang di belakang namanya. Negara adalah rumah bersama. Dan setiap penghuni rumah memiliki hak untuk bertanya ketika melihat atap mulai bocor.
Seorang petani mungkin tidak memahami teori ekonomi tingkat tinggi, tetapi ia tahu ketika harga pupuk berubah. Seorang pedagang kecil mungkin tidak hafal seluruh pasal undang-undang, tetapi ia merasakan ketika daya beli masyarakat naik atau turun. Seorang pekerja mungkin tidak membaca ratusan halaman dokumen kebijakan, tetapi ia memahami ketika peluang kerja semakin sulit.
Apakah mereka harus diam hanya karena kehidupan pribadinya belum sempurna?
Kritik Bukan Berarti Merasa Lebih Pintar
Sering terjadi kesalahpahaman bahwa orang yang mengkritik kebijakan dianggap merasa lebih hebat daripada pemimpin. Padahal kritik dalam kehidupan bernegara tidak selalu lahir dari kesombongan. Tidak sedikit kritik justru muncul karena rasa memiliki.
Seorang anak yang berkata bahwa rumahnya bocor bukan berarti ia merasa lebih pintar daripada ayahnya dalam membangun rumah. Ia hanya menyampaikan bahwa ada air yang menetes dan sesuatu perlu diperbaiki.
Begitu juga rakyat terhadap negara.
Dalam masyarakat yang sehat, kritik bukan ancaman. Kritik adalah tanda bahwa masih ada kepedulian. Justru yang berbahaya adalah ketika masyarakat berhenti peduli karena merasa suara mereka tidak berarti lagi.
Namun tentu saja, kritik juga memiliki tanggung jawab moral. Kritik yang baik tidak berhenti pada kemarahan. Ia berusaha memahami, mencari informasi, dan sebisa mungkin menawarkan perbaikan.
Ada perbedaan besar antara mengkritik dan sekadar mencela.
Melihat Cermin Sebelum Menunjuk Jendela Orang Lain
Di sisi lain, nasihat untuk memperbaiki diri sendiri juga tidak boleh dibuang begitu saja. Ada kebijaksanaan lama yang mengatakan:
“Kuman di seberang lautan tampak, gajah di pelupuk mata tidak tampak.”
Manusia memang sering lebih mudah melihat kekurangan pihak lain dibanding melihat kekurangan dirinya sendiri.
Kita bisa marah melihat pejabat tidak disiplin, tetapi apakah kita sudah disiplin dalam pekerjaan kita sendiri?
Kita bisa menuntut pemimpin jujur, tetapi apakah kita sudah menjauhi kecurangan kecil ketika ada kesempatan?
Kita bisa berbicara tentang keadilan sosial, tetapi apakah kita sudah adil kepada keluarga, tetangga, atau orang-orang yang berada di sekitar kita?
Dalam tradisi Arab dikenal ungkapan:
إصلاح النفس قبل إصلاح الناس
Memperbaiki diri sebelum memperbaiki manusia lain.
Ini adalah pengingat penting. Perubahan besar memang membutuhkan sistem yang baik, tetapi sistem yang baik juga membutuhkan manusia-manusia yang mau memperbaiki dirinya.
Namun kalimat ini seharusnya menjadi alat introspeksi, bukan alat membungkam.
Ada perbedaan antara berkata kepada diri sendiri, “Saya harus menjadi lebih baik sebelum memperbaiki dunia,” dengan berkata kepada orang lain, “Kamu tidak boleh bicara karena hidupmu belum sempurna.”
Yang pertama adalah kebijaksanaan. Yang kedua bisa menjadi kesombongan.
Ketika Balok Atas Tidak Lurus
Ada pepatah Tiongkok yang sangat menarik:
上梁不正下梁歪
Jika balok atas tidak lurus, balok bawah akan ikut miring.
Dalam bangunan tradisional, posisi balok utama menentukan keseimbangan struktur di bawahnya. Jika bagian atas sudah tidak sejajar, kerusakannya akan merambat.
Makna sosialnya jelas: pemimpin memiliki pengaruh besar terhadap budaya masyarakat.
Dalam bahasa Indonesia kita mengenalnya dengan:
“Guru kencing berdiri, murid kencing berlari.”
Teladan memiliki kekuatan.
Ketika orang yang memiliki jabatan tinggi menunjukkan integritas, menghormati aturan, dan bertanggung jawab, masyarakat lebih mudah percaya kepada sistem.
Sebaliknya, ketika masyarakat melihat aturan hanya keras kepada sebagian orang tetapi lunak kepada yang lain, kepercayaan publik dapat terkikis.
Karena itulah tanggung jawab seorang pemimpin berbeda dengan rakyat biasa.
Kesalahan satu orang biasa mungkin hanya berdampak pada lingkungannya. Tetapi kesalahan sebuah kebijakan dapat menyentuh kehidupan jutaan manusia.
Semakin besar kewenangan, semakin besar pula tanggung jawab.
Antara Menyalahkan Pemimpin dan Membebaskan Pemimpin
Ada dua sikap ekstrem yang sama-sama kurang sehat.
Yang pertama adalah menganggap semua persoalan adalah kesalahan pemimpin. Sikap ini membuat seseorang berhenti melihat tanggung jawab dirinya sendiri. Semua kegagalan dianggap berasal dari luar.
Padahal bangsa tidak hanya dibangun oleh pemerintah. Ia juga dibangun oleh budaya masyarakat, etos kerja, kejujuran, pendidikan keluarga, dan kepedulian sosial.
Tetapi ekstrem kedua juga berbahaya: mengatakan rakyat tidak boleh mengkritik dan hanya perlu mengurus dirinya masing-masing.
Jika rakyat selalu diam, bagaimana kekuasaan bisa dikoreksi?
Sejarah menunjukkan bahwa banyak perbaikan lahir karena ada orang-orang biasa yang berani bertanya.
Kemajuan tidak selalu dimulai dari orang yang sempurna. Kadang dimulai dari orang sederhana yang masih memiliki kepedulian.
Negara Adalah Rumah Bersama
Pada akhirnya, pertanyaan “siapa yang harus berubah lebih dulu, rakyat atau pemimpin?” mungkin bukan pertanyaan yang tepat.
Keduanya harus berjalan bersama.
Rakyat perlu memperbaiki dirinya, tetapi pemimpin juga harus memberikan teladan. Masyarakat perlu meningkatkan kualitas diri, tetapi kekuasaan juga perlu terbuka terhadap koreksi.
Jangan gunakan kalimat “urus dirimu sendiri dulu” untuk mematikan kepedulian warga.
Dan jangan gunakan kalimat “pemimpin yang salah” untuk menghindari tanggung jawab pribadi.
Karena sebuah bangsa bukan hanya ditentukan oleh balok di atas, dan bukan hanya oleh batu bata di bawah.
Bangunan yang kokoh membutuhkan keduanya.
Balok utama harus lurus.
Dan batu bata penyusunnya juga harus kuat.